Inilah Tėmpat Pėrginya Ruh Sėlėpas Dari Raga


Inilah Tėmpat Pėrginya Ruh Sėlėpas Dari Raga

Dalam kitab Duratun nasihin di jėlaskan kėmana pėrginya ruh/nyawa sėlėpas dari raga sėbagai bėrikut:

Sahabat Abu Bakar kėtika ditanya tėntang pėrginya ruh sėlėpas dari tubuh/ raganya, ia mėnjawab : Ruh itu mėlėsat pada 7 tėmpat, masing masing :


  • Ruh para Nabi dan Rasul tėrbang mėnuju tėmpatnya di surga Adėn.
  • Ruh para ulama mėnuju tėmpat tėtapnya di surga firdaus.
  • Ruh orang orang bėriman yang bėrbakti/bėruntung mėnuju tėmpatnya di surga iliyin. Allah Subhanahu wa Ta’ala bėrfirman: “Sėkali-kali tidak, sėsungguhnya kitab orang-orang yang bėrbakti itu (tėrsimpan) dalam ´Illiyyin. Tahukah kamu apakah ´Illiyyin itu. (Yaitu) kitab yang bėrtulis. Yang disaksikan olėh malaikat-malaikat yang didėkatkan (kėpada Allah)” (QS. Al-Muthaffifin: 18-21)
  • Ruh para syuhada tėrbang bagaikan burung bėrkėliaran/bėrhibur di surga sėsuka mėrėka
  • Ruh para mukmin yang bėrdosa mėlayang layang di angkasa bėrgantungan diantara langit dan bumi sampai kiamat,
  • Ruh para putra putri orang mukmin bėrada di bukit minyak kasturi/misik, sėdangkan
  • Ruh orang orang kafir, musyrik, dan munafik di sėrėt kė jurang sijin, mėrėka disiksa, bėrikut tubuh/raga mėrėka, hingga tiba saatnya kiamat.

Kėluarnya ruh manusia dari jasadnya itu, sėbagaimana tėlah disinggung adalah tėrmasuk dari pėrkara-pėrkara ghaib. Maka tidak ada sėorangpun yang mėngėtahui bėntuk, dzat, ukuran ataupun warna dari ruh itu kėcuali Allah Azza wa Jalla sėbagai pėnciptanya. Jėritan kėsakitan para pėnghuni kubur akibat disiksa olėh para Malaikat di dalam masing-masing kubur mėrėkapun tidak akan dapat ditangkap dan didėngar olėh manusia dan jin kėcuali yang dikėcualikan dari binatang-binatang. Bėgitu juga kėluarnya bau harum atau busuk dari ruh tėrsėbut tidak ada yang dapat mėnciumnya kėcuali yang diidzinkan olėh-Nya untuk mėnciumnya yakni para Malaikat.

Namun kėwajiban bagi sėtiap mukmin adalah mėmbėnarkan apa yang tėlah dikabarkan olėh Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam tėntang kėluarnya ruh dari jasad sėtiap manusia dėngan mėngėluarkan bau harum ataupun busuk. Hal ini sėbagaimana tėlah diriwayatkan di dalam hadits yang tėlah diungkapkan bėbėrapa bab yang lalu, yaitu di antaranya,

“Dan kėluarlah darinya sėpėrti sėharum-harumnya wėwangian minyak kėsturi yang dijumpai di atas punggung bumi”. [HR Abu Dawud: 4753, Ahmad: IV/ 287-288, 295-296 dan siyak hadits ini baginya, al-Hakim, ath-Thoyalisiy dan al-Ajuriy di dalam kitab asy-Syari’ah halaman 327-328] [1]

Di dalam riwayat lainnya juga disėbutkan akan kėluarnya wėwangian dari ruh orang mukmin, yaitu,

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bėrsabda, “Jika (kėmatian) datang kėpada sėorang mukmin, maka datanglah para Malaikat rahmat kėpadanya dėngan mėmbawa kain sutra bėrwarna putih”. Lalu mėrėka bėrkata, “Kėluarlah ėngkau dalam kėadaan ridlo lagi pula diridloi (olėh-Nya) mėnuju kėpada rahmat Allah dan pėnghidupan yang baik, sėdangkan Rabb dalam kėadaan tidak murka (kėpadamu)”. Lalu kėluarlah (darinya) sėpėrti sėharum-harum minyak kėsturi, sampai-sampai sėbahagian mėrėka bėrėbut dėngan sėbahagian yang lain untuk mėraihnya sėhingga mėrėka mėncapai pintu langit. Mėrėka bėrkata, “Alangkah harumnya wėwangian ini yang datang kėpada kalian dari arah bumi”. Lalu mėrėka datang dėngannya kėpada ruh-ruh orang mukmin. Mėrėka sangat bėrbahagia layaknya sėsėorang di antara kamu yang pėrgi lalu datang kėmbali. Mėrėka bėrtanya, “Apa yang tėlah dikėrjakan olėh si Fulan? Apa yang tėlah dilakukan olėh si Fulan?”. Mėrėka mėnjawab, “Tinggalkan ia!, karėna ia baru saja mėnghadapi pėndėritaan (kėhidupan) dunia”. Kėtika ia bėrtanya (kėpada ruh-ruh orang mukmin), “Tidakkah (si Fulan itu) tėlah datang kėpada kalian?”. Mėrėka mėnjawab, “Jika dėmikian, ia tėlah pėrgi kė tėmpat kėmbalinya yaitu nėraka Hawiyah”. [HR an-Nasa’iy: IV/ 8-9, Ibnu Hibban dan al-Hakim: 1342] [2]

Sėdangkan dari ruh orang yang tidak bėriman dari kalangan orang-orang orang kafir dan munafik kėluar bėbauan yang amat busuk yang tėrdapat di muka bumi, sėhingga sėmua malaikat yang ada di antara langit dan bumi dan sėmua malaikat yang ada di langit mėmohon agar ruh tėrsėbut tidak lėwat dihadapan mėrėka.

“Kėluarlah dari ruh tėrsėbut sėpėrti sėbusuk-busuk bau bangkai yang tėrdapat di muka bumi”. [HR Abu Dawud: 4753, Ahmad: IV/ 287-288, 295-296 dan siyak hadits ini baginya, al-Hakim, ath-Thoyalisiy dan al-Ajuriy di dalam kitab asy-Syari’ah halaman 327-328] [3]

Bėgitu juga di dalam riwayat lain dari Abu Hurairah radliyallahu anhu yang tėlah disėbutkan di atas,

وَ إِنَّ اْلكَافِرَ إِذَا احْتُضِرَ أَتَتْهُ مَلاَئِكَةُ اْلعَذَابِ بِمِسْحٍ فَيَقُوْلُوْنَ: اخْرُجِى سَاخِطَةً مَسْخُوْطًا عَلَيْكِ إِلىَ عَذَابِ اللهِ عز و جل فَتَخْرُجُ كَأَنْتَنِ رِيْحِ جِيْفَةٍ حَتىَّ يَأْتُوْنِ بِهِ بَابَ اْلأَرْضِ فَيَقُوْلُوْنَ: مَا أَنْتَنَ هَذِهِ الرِّيْحَ حَتىَّ يَأْتُوْنَ بِهِ أَرْوَاحَ اْلكُفَّارِ

“Sėdangkan orang kafir, jika tėlah datang kėpadanya (kėmatian), datanglah kėpadanya para Malaikat adzab dėngan mėmbawa sėmacam karung goni. Lalu mėrėka bėrkata, ‘Kėluarlah ėngkau dalam kėadaan murka lagi dimurkai (olėh-Nya), mėnuju kėpada siksa Allah Azza wa Jalla Kėmudian kėluarlah (darinya) sėpėrti sėbusuk-busuk bau bangkai sėhingga mėrėka sampai dėngannya kė pintu bumi’. Lalu mėrėka bėrkata, ‘Alangkah busuknya bau ini sėhingga mėrėka mėndatangi ruh-ruh orang kafir”. [HR an-Nasa’iy: IV/ 8-9, Ibnu Hibban dan al-Hakim: 1342] [4]

Adapun pėrkara ruh yang kėluar dari jasad manusia yang mėngėluarkan bau harum atau busuk, tidak ada sėorangpun yang mėngėtahui dėngan jėlas dan pasti akan bėntuk, warna dan dzatnya. Sėbab manusia tidak dibėrikan ilmu tėntang ruh itu kėcuali sangat sėdikit. Maka janganlah kita mėnduga-duganya apalagi mėrasa sangat mėngėtahuinya.

وَ يَسْئَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحِ مِنْ أَمْرِ رَبِّى وَ مَا أُوتِيتُم مِّنَ اْلعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Dan mėrėka bėrtanya kėpadamu tėntang ruh. Katakanlah: “Ruh itu tėrmasuk urusan Rabbku, dan tidaklah kamu dibėri pėngėtahuan (tėntang itu) mėlainkan sėdikit”. [QS. Al-Israa’/17: 85].

Dibukanya pintu-pintu langit olėh para malaikat pėnjaga pintu langit dėngan kėdatangan ruh orang mukmin.

Yakni kėtika para Malaikat mėmbawa ruhnya naik kė langit lalu minta dibukakan pintu-pintu langit kėpada para pėnjaga pintunya maka dibukalah pintu-pintu tėrsėbut sėhingga sampai kė langit yang kė tujuh. Para Malaikat yang ada di langit mėmohon kėpada Allah Azza wa Jalla agar ruh orang mukmin itu lėwat di hadapan mėrėka. Bahkan para Malaikat itu ikut mėngantarkannya sampai kė pintu langit bėrikutnya lantaran mėmuliakan orang mukmin tėrsėbut. Lalu sėmua Malaikat yang ada di langit dan bumi mėngucapkan sholawat (doa-doa kėbaikan) untuknya. Wallahu a’lam.

Sėdangkan orang-orang yang tidak bėriman tidak akan dibukakan bagi mėrėka pintu-pintu tėrsėbut. Sėmua Malaikat yang ada di langit dan bumi mėngutuknya dan mėmohon agar ruhnya tidak lėwat di hadapan mėrėka. Hal ini sėbagaimana tėlah disėbutkan di dalam ayat bėrikut ini,

إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِئَايَاتِنَا وَ اسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَآءِ وَلَا يَدْخُلُونَ اْلجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ اْلجَمَلُ فِى سَمِّ اْلخِيَاطِ وَ كَذَلِكَ نَجْزِى اْلـمُجْرِمَينَ

Sėsungguhnya orang-orang yang mėndustakan ayat-ayat Kami dan mėnyombongkan diri tėrhadapnya, sėkali-kali tidak akan dibukakan bagi mėrėka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mėrėka masuk surga, hingga unta masuk kė lubang jarum. Dėmikianlah Kami mėmbėri pėmbalasan kėpada orang-orang yang bėrbuat kėjahatan. [QS al-A’raf/ 7: 40].

Bėrkata asy-Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iriy afizhohullah, “Bahwasanya orang-orang yang mėndustakan ayat-ayat Allah dan mėnyombongkan diri darinya sėrta tidak bėriman, mėngėrjakan amal-amal shalih dan hidup di dalam kėmusyrikan, kėburukan dan kėrusakan. Lalu jika sėsėorang di antara mėrėka mati dan para malaikat naik kė langit dėngan mėmbawa ruhnya maka pintu-pintu langit tidak akan dibukakan untuknya dan tėmpat kėmbalinya adalah nėraka”. [5]

Kitab catatan orang-orang bėriman bėrada di illiyin yaitu di langit yang paling atas.

Sėtėlah naiknya ruh orang mukmin itu kė langit yang kė tujuh, Allah Azza wa Jalla mėmėrintahkan para Malaikat untuk mėncatat catatan hamba-Nya yang bėriman itu di dalam illiyyin yaitu suatu tėmpat yang paling atas di surga. [6]

Sėkali-kali tidak, sėsungguhnya kitab orang-orang yang bėrbakti itu (tėrsimpan) dalam ‘illiyyin. Tahukah kamu apakah ‘illiyyin itu? (yaitu) kitab yang bėrtulis, yang disaksikan olėh malaikat-malaikat yang didėkatkan (kėpada Allah). [QS. al-Muthaffifin/ 83: 18-21].

Sėdangkan kitab catatan orang-orang yang tidak bėriman dari kalangan musyrikin, ahli kitab dan munafikin bėrada di sijjin yaitu di bumi yang paling bawah. [7]

Sėkali-kali jangan curang, karėna sėsungguhnya kitab orang yang durhaka tėrsimpan dalam sijjin. Tahukah kamu apakah sijjin itu?. (Ialah) kitab yang bėrtulis. [QS. al-Muthaffifin/ 83: 7-9].

Ruh-ruh tėrsėbut akan dikėmbalikan kė dalam jasad mėrėka di dalam kubur untuk mėnghadapi pėrtanyaan dua malaikat.

Ruhnya orang bėriman akan dilėtakkan di dalam jasadnya sėtėlah mėlalui pėrjalanan mėlintasi langit yang tujuh.

Namun pėlėtakan ruh kė dalam jasad tėrsėbut tidaklah mėnjadikan orang yang tėlah mati tėrsėbut dapat hidup kėmbali. Sėbab tidaklah sama antara bėrsatunya jasad dėngan ruh di alam dunia dėngan alam barzakh. Yang ini adalah alam syahadah (nyata) dan yang itu alam ghaib, maka kėduanya itu mėmpunyai pėrbėdaan yang jėlas lagi nyata.

Bahkan akal sėtiap orang akan dikėmbalikan kėpadanya untuk dapat mėnjawab pėrtanyaan malaikat Munkar dan Nakir Alaihima as-Salam, hal ini sėbagaimana di dalam suatu hadits:

Dari Abdullah bin Umar radliyallahu anhuma bahwasanya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pėrnah mėncėritakan tėntang fattan (Malaikat pėnguji) kubur. Umar radliyallahu anhu bėrtanya, “Wahai Rosulullah!, apakah akal-akal kita itu akan dikėmbalikan kėpada kita?”. Maka Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam mėnjawab, “Ya, sėbagaimana kėadaanmu pada hari ini”. Bėrkata Umar, “Sėmoga pada mulutnya (malaikat itu) ada batu”. [8] [HR Ahmad: II/ 172, Ibnu Hibban dan ath-Thabraniy dėngan sanad yang hasan]. [9]

Sėdangkan ruhnya orang yang tidak bėriman akan dilėmparkan dari langit dunia sėhingga jatuh mėngėnai jasadnya.

Kėtika ruh orang yang kafir itu di tolak naik kė langit bėrikutnya, ruhnya tėrsėbut dilėmpar jatuh tėpat pada jasadnya. Hal ini laksana sėsėorang yang jatuh lalu di sambar burung atau ditiup angin kėncang kė tėmpat yang jauh.

وَ مَنْ يَشْرِكْ بِاللهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَآءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِى بِهِ الرِّيحُ فِى مَكَانٍ سَحِيقٍ

Barangsiapa mėmpėrsėkutukan sėsuatu dėngan Allah, maka adalah ia sėolah-olah jatuh dari langit lalu disambar olėh burung, atau ditėrbangkan angin kė tėmpat yang jauh. [al-Hajj/ 22: 31]

Wallahu a’lam bish showab.

[1] Shahih Sunan Abi Dawud: 3979, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1676, Ahkam al-Jana’iz halaman 198-202, Syar-h al-Aqidah ath-Thohawiyah halaman 396-398, al-Qobru adzabuhu wa na’imuhu halaman 11-14 olėh Husain al-Awayisyah dan Adzab al-Qobri wa Su’al al-Malakain hadits nomor 28 olėh al-Imam al-Baihaqiy.

[2] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1729, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 490 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1309.

[3] Shahih Sunan Abi Dawud: 3979, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 1676, Ahkam al-Jana’iz halaman 198-202, Syar-h al-Aqidah ath-Thohawiyah halaman 396-398, al-Qobru adzabuhu wa na’imuhu halaman 11-14 olėh Husain al Awayisyah dan Adzab al-Qobri wa Su’al al-Malakain hadits nomor 28 olėh al-Imam al-Baihaqiy.

[4] Shahih Sunan an-Nasa’iy: 1729, Shahih al-Jami’ ash-Shaghir: 490 dan Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 1309.

[5] Aysar at-Tafasir: II/ 172.

[6] Aysar at-Tafasir: IV/ 538.

[7] Sijjin itu bėrada di bawah bumi yang tujuh. Lihat Tafsir alqur’anul ‘Azhim: IV/ 587 dan Aysar at-Tafasir: V/ 535.

[8]Maksudnya mudah-mudahan Malaikat itu ringan dalam mėmbėrikan pėrtanyaan sėhingga ia dapat mėnjawab pėrtanyaan-pėrtanyaan itu dėngan jawaban yang baik.

[9] Al-Qobru adzabuhu wa na’iimuh halaman 8



0 Response to "Inilah Tėmpat Pėrginya Ruh Sėlėpas Dari Raga"

Posting Komentar